Orang Desa Pernah Menginginkan Naik Bus Tingkat di Jakarta

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Pos

Orang Desa Pernah Menginginkan Naik Bus Tingkat di Jakarta

Jumat, 15 Oktober 2021 | 19:22 WIB Last Updated 2023-01-18T15:58:45Z
Sahabat-Otomotif.Com - Sejarah sebagai bagian masa lalu ternyata tak melulu hilang ditelan zaman. Tak jarang sejarah kembali terulang, meski dengan cara berbeda. Misalnya kehadiran bus tingkat wisata yang kini melaju di jalanan Ibu Kota, ternyata adalah pengulangan dari masa lalu.

Bagi mereka yang sempat naik-turun angkutan umum di Jakarta pada era 1980-an dan 1990-an, pasti pernah merasakan naik bus tingkat. Kendati hanya menjajal rute tertentu, keberadaan bus tingkat atau double decker pernah mewarnai pemandangan jalanan di Ibu Kota.

Bus tingkat hadir di Indonesia pertama kali tahun 1968 yang dibuat Leyland, pabrikan bus dan truk dari Inggris. Jenis bus tingkat pertama di Indonesia adalah Leyland Titan dengan kode PD3-11.

Leyland Titan hadir dengan bahan fiberglass dan kaca lengkung untuk memperluas pandangan pengemudi dengan mesin berada di bagian depan bus. Postur bus ini sepanjang 9 meter, lebar 2,5 meter, serta bobot yang terbilang berat, yakni 14 ton.

Awalnya bus tingkat ini melayani trayek Blok M-Salemba-Pasar Senen pada periode 1968-1982 yang dioperasikan Perusahaan Pengangkutan Djakarta atau PPD.

Tahun 1983, muncullah generasi kedua bus tingkat di Indonesia yang masih berasal dari pabrikan Lelyland. Tahun itu, pemerintah Indonesia mendapat hibah sejumlah bus tingkat Leyland yang langsung dikirim dari Inggris, yang sebagian lagi bekas dipakai Singapura.

Bus tingkat generasi kedua bernama Leyland Atlantea ini mampu menampung penumpang hingga 106 orang. Panjangnya 10,2 meter dan sudah menggunakan sistem power steering agar manuver bus lebih apik ketimbang "kakaknya", Leyland Titan.

Pada bus tingkat generasi kedua ini, pintu pada bus sudah otomatis dengan membuka dan menutup sendiri. Persebaran Leyland Atlantea tidak hanya di Ibu Kota, karena juga beroperasi di kota-kota besar di Indonesia seperti Surabaya dan Semarang.

Jika di Jakarta pengoperasiannya tetap dipegang PPD, di luar Jakarta, tepatnya di Semarang dan Surabaya dipegang Perum Damri (Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia).

Selain Leyland, pada dekade awal 1990-an armada bus tingkat di Jakarta juga dipasok merek asal Swedia, yakni Volvo seri B55. Bus tingkat ini punya panjang 11, 83 meter, lebih panjang dan punya kapasitas penumpang lebih banyak dibanding bus tingkat Leyland Atlantea.

Total ada 180 unit bus yang dipesan oleh Kementerian Perhubungan (dulu Departemen Perhubungan) dengan harga Rp 80 juta per unit. Bus Volvo B55 ini didatangkan secara completely knock down (CKD) dari Inggris, kemudian dirakit di Indonesia oleh PT Ismac selaku importir Volvo pada masa itu. CKD merupakan kendaraan bermotor jenis mobil dan motor yang didatangkan ke Indonesia atau diimpor dalam keadaan terpisah dengan komponen yang lengkap untuk kemudian dirakit di dalam negeri.

Bus tingkat Volvo yang masuk ke Indonesia adalah Volvo B55 Ailsa generasi ketiga berkapasitas penumpang 108 penumpang. Bus ini diproduksi oleh Volvo Inggris dan dikaroseri oleh Ailsa dengan model Alexander.

Indonesia juga mendapat satu unit bus Volvo B55s triple axle, yang panjangnya mencapai 11,8 meter dan bisa menampung 200 penumpang. Namun, dari rencana pembelian 200 unit, ternyata hanya satu yang dibeli. Bus tingkat Volvo Triple Axle ini kemudian lebih dikenal dengan nama bus jumbo. (yy/dari berbagai sumber)